Pria
ini bernama M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. asli Irian, berkulit
gelap, berjenggot kemana-mana memilih membalut tubuhnya dengan jubah.
Lahir
dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia
sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di
kampungnya. `'Kami di Irian, khususnya di kampung kami, ketika masuk SD
kelas 1 sudah harus belajar Alquran'' tuturnya.
Pengetahuan ilmu
agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi
keagamaan di Makassar dan Jawa. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini
akhirnya memilih jalan dakwah. Dia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah
Nusantara. Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini,
Ustadz Fadlan begitu ia kerap disapa mengenalkan Islam kepada
masyarakat Irian sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan
sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam
pendidikan di luar Irian.
== Curhat Ust.Fadlan ==
==
Dikisahkan
oleh Ust.Fadlan bahwa orang-orang muslim di Indonesia, masih terbersit
opini bentukan penjajah bahwa di wilayah Indonesia Timur, terutama
Papua, banyak penduduknya yang non muslim masih melekat. Hal itu pernah
ia buktikan kala mengisahkan pengalamannya saat Ust.Fadlan masuk kuliah
di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar di tahun 80'an. Dia
pernah diusir oleh dosen agama Islam hanya karena berkulit hitam dan
berambut keriting. Tapi sebelum keluar, dia sedikit protes dengan
mengajukan empat pernyataan.
”Apakah agama Islam hanya
untuk orang berkulit putih, Jawa, Bugis atau untuk semua orang yang
hidup di dunia? Siapa sahabat nabi Saw yang berkulit hitam dan berambut
keriting namun merdu suaranya? Siapa saja yang ada dikelas ini yang bisa
membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar?” tandasnya.
Ditanya
seperti itu, sang dosen hanya menanggapi pertanyaan yang ke-3 saja.
Ternyata, dari 47 mahasiswa yang hadir, hanya tujuh orang yang bisa.
Salah satunya adalah orang yang berkulit hitam dan berambut keriting
tersebut. Langsung saja Ustadz Fadlan mendapat kesempatan memberi
nasehat kepada semua yang di kelas yang tadi mau mengusirnya. Selama dua
jam dia memberi nasehat, sehingga mata kuliah agama hari itu selesai.
Dosennya
pun langsung menyatakan Ustadz Fadlan lulus dengan nilai A di hari
pertama masuk kelas agamalah. Karena, selain puas dengan nasihat Ustadz
Fadlan yang menyatakan jangan merasa bangga hanya karena beda warna
kulit atau lainnya, Fadlan mampu membaca Alqur’an (salah satu kemuliaan
agama Islam) dengan baik dan benar.
Mulai Berdakwah
Lulus
sebagai sarjana ekonomi, Fadlan tidak memilih untuk menjadi pegawai
negeri atau pengusaha, tapi Da’i, penyeru agama Islam dan mengangkat
harkat martabat orang Fak-fak, Asmat, dan orang Irian lainnya. Dia tidak
setuju kalau orang-orang ini dibiarkan tidak berpendidikan, telanjang,
mandi hanya tiga bulan sekali dengan lemak babi, dan tidur bersama babi.
Semua penghinaan itu hanya karena alasan budaya dan pariwisata. ”Itu
sama saja dengan pembunuhan hak asasi manusia” katanya.
Dia
pun berjuang dan berdakwah untuk semua itu. Tempat yang pertama kali
dikunjungi adalah lembah Waliem, Wamena. Dengan konsep kebersihan
sebagian dari iman, Fadlan mengajarkan mandi besar kepada salah satu
kepala suku. Ternyata ajaran itu disambut positif oleh sang kepala suku.
”Baginya mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan
air sangat nyaman dan wangi,” jelasnya.
Selain itu juga
ada beberapa orang yang tertarik dengan ibadah sholat. Sambil mengingat
masa itu, dia bercerita, ”Di Irian itu, babi banyak berkeliaran kayak
mobil antri. Sehingga untuk mendirikan sholat harus mendirikan panggung
dulu. Saat itu orang-orang langsung mengelilingi. Selesai sholat, kami
ditanya mengapa mengangkat tangan, mengapa menyium bumi?”.
Jawabnya,”Kami
bersedekap bertanda kami menyerahkan diri kepada satu-satunya Pencipta
seluruh alam. Mencium bumi karena disinilah kita hidup. Tumbuhan dan
hewan, yang mana makanan kita berasal dari mereka juga tumbuh di atas
bumi”
Dakwah seperti ini yang dia gunakan. Mengajarkan
kebersihan, dialog dengan apa yang mereka pahami, pergi ke hutan rimba,
dan membuka informasi. Dengan dakwah yang sudah dijalankannya selama 19
tahun ini, banyak orang yang masuk Islam di sana. Tercatat 45% warga
asli memeluk agama Islam. Jika ditambah dengan para pendatang, maka
pemeluk Islam sebanyak 65% dari seluruh manusia yang ada di pulau burung
tersebut.
Di setiap daerah yang dikunjungi, Ust.Fadlan
selalu bersikap santun. Shalat di tengah-tengah komunitas `asing' tak
pernah ia tinggalkan. Perlahan-lahan jejaknya diikuti oleh masyarakat
setempat. `'Ketika menyaksikan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat,
saya tidak kuat. Air mata menetes,'' ucapnya.
==
Dikisahkan,
Ust Fadlan pernah berdakwah sendirian untuk menuju suatu perkampungan
dengan waktu tempuh tercepat 3 bulan berjalan kaki. Dan Subhanallah hal
tersebut tidak pernah menyurutkan hatinya untuk terus berdakwah, jika
ada aral melintang dia selalu kembalikan kepada Allah SWT, dan dia
selalu ingat bagaimana dulu Rasulullah SAW berdakwah dengan jarak ribuan
kilo dan di padang tandus.
Ust Fadlan juga mengisahkan
cerita ada seorang da'i dari Surabaya ingin ikut berdakwah dengannya di
tanah Papua, dan diajaklah dia. Awalnya da'i tersebut tidak menyangka
akan mendapatkan perjalanan yang sangat berat di tanah Papua. Da'i
bersama dengan Ust. Fadlan harus menempuh perjalanan selama 12 hari
berjalan kaki untuk menembus daerah yang akan di kunjungi. Pada hari
ke-10 da'i dari Surabaya sudah merasakan kelelahan sehingga dia
marah-marah, Ust. Fadlan pun bilang, "Jika anda ingin kembali silahkan
anda kembali sendiri, saya akan tetap meneruskan perjalanan ini, dan
anda bukanlah umat Rasulullah SAW, karena anda hanya bisa mengeluh, anda
tidak ingat betapa beratnya perjuangan Rasulullah SAW waktu pertama
kali berdakwah?". Setelah itu Ust. Fadlan tetap melanjutkan
perjalanannya dan da'i tersebut dengan wajah menyesal mengikutinya.
setelah
tiga bulan menetap di daerah tersebut dan tidak ada seorang pun yang
masuk Islam, Ust. Fadlan mengatakan kepada da'i dari Surabaya bahwa ini
karena da'i tersebut mempunyai niat yang salah sewaktu memulai
perjalanan tersebut. Da'i tersebut merasa sangat bersalah sekali, dan
dia berniat untuk memperbaikinya, dan Ust. Fadlan mengusulkan agar da'i
tersebut untuk menikahi salah satu wanita yang ada di daerah tersebut.
Da'i tersebut meminta waktu untuk shalat istikarah, setelah 7 hari
beristikarah, dia memberi jawaban bahwa dia mendapatkan petunjuk dengan
cahaya putih, Ust. Fadlan menyimpulkan bahwa itu artinya da'i tersebut
memang harus menikah dengan wanita dari daerah tersebut. Maka di bawalah
salah seorang wanita dari penduduk setempat untuk di ajak ke pulau
Jawa, dan di tanah Jawa dia diajarkan semua tentang agama Islam, dan
akhirnya mereka menikah di tanah Jawa.
==
Dikisahkan
pula,pada suatu waktu Ust. Fadlan menceritakan tatkala ia bersama 20
orang berniat ingin mengunjungi daerah yang masyarakatnya masih asing
dengan orang luar, dia mengatakan bahwa jika mereka kesana maka
kemungkinan mereka akan langsung berhadapan dengan panah-panah beracun,
maka Ust. Fadlan menanyakan apakah mereka siap untuk mati syahid, dalam
menghadapi hal-hal semacam itu. Ternyata hanya 6 orang yang bersedia
untuk mati syahid dan berani mendampingi ust. Fadlan ke daerah tersebut.
Setelah mendekati daerah tersebut, mereka melihat masyarakat disana
sudah siap menghadang mereka dengan senjata-senjata tradisional mereka.
Selanjutnya di tengah perjalanan Ust. Fadlan menanyakan kembali
kesediaannya dari 6 orang tersebut, apakah mereka benar-benar siap untuk
mati syahid, dan mereka semua menyatakan siap. Sebelum mereka
melangkah, Ust. Fadlan memberikan satu pesan, yaitu jika, Ust. Fadlan
terkena panah dan sudah tidak dapat berdiri, ke-6 orang tersebut harus
lari menyelamatkan diri. Setelah ada kesepakatan, mereka pun melangkah
dengan langkah pasti. Dan masyarakat tersebut pun menyambut mereka
dengan panah-panah beracun yang di lepaskan, hingga ust. Fadlan terkena
panah di beberapa bagian badannya, dan akhirnya jatuh tersungkur, dan
ust. Fadlan tetap berusaha untuk berdiri dan terus melangkah walaupun
darah terus mengalir dari tubuhnya, sedangkan ke-6 orang tadi melihat
ust. Fadlan telah tersungkur, dan ingat pesannya, maka mereka pun
melarikan diri. Dan melihat keadaan ust. Fadlan yang masih berusaha
untuk berdiri, ketua adat daerah tersebut pun meminta agar masyarakatnya
menghentikan panah-panah beracun. Dia menghampiri ust. Fadlan dan
membantunya, Ust. Fadlan hanya ingin kembali ke tempatnya agar bisa di
obati luka-lukanya, dan ketua adat tersebut mengatakan bahwa dia akan
ikut mengantarkannya. Ust. Fadlan mengira bahwa ketua adat akan
menghantarkan dirinya sampai batas desa saja, tetapi ternyata ketua adat
menghantarkannya hingga sampai ke rumahnya, sepanjang perjalanan ketua
adat tersebut mengobati luka-luka Ust. Fadlan dengan bahan-bahan yang
ada dari sekitar dan ketua adat tersebut bahkan berkeras untuk mengikuti
ke rumah sakit yang ada di Makassar. Setelah pulang ketua adat tersebut
akhirnya mengikrarkan diri masuk Islam.
==
Ust.Fadlan
pernah bercerita pula karena dia berkulit gelap, sewaktu dia memberi
salam kepada saudaranya yang muslim, saudara-saudara yang muslim belum
tahu kalo dia muslim tidak pernah menjawab salam-salam beliau, padahal
Rasulullah mempunyai seorang sahabat yang selalu mengumandangkan adzan
yang mantan budak dan berkukit, dialah Bilal dan Islam sendiri tidak
pernah membedakan warna kulit seseorang, bahkan dalam Al-Qur'an manusia
di ciptakan berbeda untuk saling mengenal.
Dakwahnya yang
beliau lakukan tidak pernah berhenti berhenti, selalu berlanjut baik
dengan program pemberdayaan ekonomi. Bekerja sama dengan Baitul Maal
Mu’amalat (BMM), selain itu, Fadlan mendirikan lembaga sosial dakwah dan
pembinaan SDM kawasan Timur Indonesia Al Fatih Kaaffah Nusantara
(AFKN). Dengan lembaga tersebut, orang-orang Irian diajak membuat produk
seperti buah merah, ikan asin, dan manisan pala bermerk BMM AFKN.
Pasarannya sudah masuk di Jakarta, termasuk Carefour. Selain itu, Sagu
irian juga diekspor ke India.
SDM pun juga tidak
ketinggalan. Anak-anak muda dalam bimbingan lembaga tersebut sudah
tersebar di seluruh indonesia demi menuntut ilmu guna memajukan
kehidupan di tempat dimana matahari terbit pertama kali memberikan
cahayanya (Nu Waar) untuk Indonesia.
Selain itu pula,
beliau bersama dengan Badan Wakaf Qur'an beberapa tahun lalu pernah
mengusahakan agar masyarakat di Papua mengupayakan mendapatkan Al-Qur'an
untuk di tadaburi, dan juga pembangunan tenaga Listrik Mikro Hidro
(sumber air yang berlimpah) agar dapat memberdayakan masyarakat disana
jika listrik telah di pasang.
For Youth Info
Nu Waar
adalah nama pertama pulau paling timur di wilayah Indonesia. Di pulau
yang sekarang lebih dikenal dengan nama Irian ini ternyata memiliki
sejarah perkembangan Islam sejak abad ke-12. Nama Nu Waar diberikan oleh
pedagang muslim yang datang saat itu. Islam masuk pada 17 Juli 1214,
sedangkan agama lainnya (selain animisme dan dinamisme) baru masuk
sekitar abad XVIII. Nama Nu Waar sendiri berarti cahaya. Pedagang muslim
dari Gujarat, yang membawa agama Islam tersebut, ingin pulau ini
menjadi cahaya bagi Asia. Namun nama tersebut sama sekali tidak popular,
bahkan di kalangan umat Islam Indonesia. Parahnya lagi, informasi yang
kurang hingga saat ini menambah kesalahpahaman kita terhadap pulau
paling timur ini.
Kesalahpahaman itu masih ditambah dengan
usaha penjajah yang saat itu cukup berhasil menghilangkan jejak
khazanah Islam dengan mengganti namanya menjadi Papua. Tetapi nama
tersebut tidak disukai umat muslim setempat karena artinya orang kulit
hitam yang gemar melakukan kriminal alias menghina mereka. Sehingga
muslimin lokal masih memiliki semangat memperjuangkan dan hanya mengakui
nama pulau burung tersebut sebagai Pulau Nu Waar. Sedangkan nama Irian
diberikan setelah Presiden Pertama RI berhasil merebutnya. Nama yang
juga masih kurang baik, karena berarti penduduk yang tidak berbusana.
Itulah
beberapa sekelumit kisah perjuangan seorang da'i yang tidak kenal lelah
untuk mengenalkan masyarakat di sekitarnya untuk mengenal sang
Pencipta. Subhanallah!!!
*****
Berikut ini terlampir pula petikan dialog kisah pengalaman Ustadz Fadlan kepada Burhanuddin Bella dan Nina Chairani dari Republika. yang diterbitkan oleh harian surat kabar Republika (Ahad, 07 Mei 2006) :
Sepanjang pengetahuan Anda, bagaimana awalnya Islam masuk ke Irian?
Dari
agama-agama yang ada di Irian, Islam sudah ada di sana sejak abad
ke-13, 17 Juli 1214. Itu di Fak-fak, Kaemana, Raja Ampat, Babo, Bituni.
Islam diperkenalkan pertama dari Kerajaan Samudara Pasai, Syekh Iskandar
ketika datang ke sana. Setelah itu Belanda masuk ke Irian baru Sultan
Tidore dan Ternate melakukan perjalanan dakwah kedua. Tapi, jauh
sebelumnya sudah ada.
Apa yang mendorong Anda mau berdakwah sampai ke pedalaman-pedalaman Irian?
Saya
punya kewajiban. Bukan saya pribadi, tapi bangsa Indonesia ini akan
bertanggung jawab kepada Allah ketika hari kiamat, Tuhan bertanya,
kenapa Anda sudah menjadi Muslim Anda biarkan mereka begitu? Apalagi
dengan membiarkan mereka tetap telanjang. Kedua, di Indonesia ini orang
Irian yang pertama melakukan shalat Subuh, pertama shalat Idul Fitri,
pertama shalat Jumat, pertama buka puasa. Ini berarti ada satu rahasia
Allah yang perlu orang Islam di negeri ini menyampaikan semua orang.
Bahwa perlu ada sebuah dakwah. Karena itulah saya membuat Yayasan Al
Fafti Kaffa Nusantara untuk membina masyarakat Muslim maupun mualaf asal
Irian, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan lain. Yayasan ini
bertujuan mempersiapkan generasi Islam asal Nuwar yang berakidah dan
bertauhid, yang kokoh dan membekali diri dari berbagai disiplin ilmu
untuk membangun umat, terutama yang ada di pedalaman.
Apa yang dilakukan di yayasan itu?
Orientasi
awal adalah pengembangan SDM. Anak-anak Muslim maupun mualaf asal Nuwar
atau Irian tidak pernah mendapat beasiswa khusus. Sebenarnya pemerintah
kasih untuk orang Irian seluruhnya, tapi orang Irian Muslim tidak
menguasai birokrasi sehingga semua beasiswa dikasih habis oleh
orang-orang bukan Islam. Dari sisi itulah kami punya lembaga ini,
menghimpun orang-orang yang tidak mampu, tidak punya kekuatan keuangan,
ekonomi. Kami akan berusaha ke semua lembaga Islam yang ada di Jakarta
atau di Jawa, di Makassar, bahwa ini anak-anak kami, tolong dibina
mengenal Allah, mengenal Islam, mengenal Nabi Muhammad, dan kalau bisa
diberikan keterampilan dalam bentuk ilmu pengetahuan lain.
Anda menyebut Nuwar. Apa itu?
Itu
nama Irian pertama. Nu itu cahaya, War itu menyimpan rahasia alam. Itu
sebelum nama Papua dan Irian. Nuwar itu adalah pulau Irian secara
keseluruhan. Ketika Portugis menjajah pulau itu, namanya diganti Papua.
Konotasi kami istilah Papua itu jelek. Sedangkan istilah Irian berasal
dari beberapa bahasa di Irian. Tapi, yang paling utama diambil dari
penelitian Ibnu Batuta pada 1517. Ketika dia datang ke sana, masih ada
orang Irian yang telanjang, masih pakai koteka. Maka dia bilang, kalau
begitu orang-orang ini disebut dengan orang-orang Urian. Urian bahasa
Arab, artinya telanjang. Sementara dari bahasa Biak artinya bumi yang
panas. Bahasa Fak-fak, Uri itu diambil dari (kata yang) artinya daerah
batasan. Lalu dalam konferensi Malino ditetapkan dengan istilah Irian
yang bahasa politiknya 'Ikut Republik Indonesia Anti Netherland', dan
ditambah Barat. Terus diubah jadi Irian Jaya. Kami anak-anak Muslim
lebih senang menggunakan Irian daripada Papua.
Jalan dakwah yang
dilakoninya selama 19 tahun itu tentu saja tidak selalu mulus. Mereka
pernah bertemu OPM (Organisasi Papua Merdeka), bahkan sempat
dikejar-kejar dan disandera. ''Mungkin mereka tidak tahu, tapi setelah
dia lihat orang Irian, dia tidak lakukan itu. Dan orang Irian tidak
sejahat yang diisukan. Yang penting kita baik.'' Ketika mendekati
masyarakat itulah, tidak sedikit ada yang membenci, mencaci-maki, dan
mengancam. Namun, sikap dan perilaku baik melumerkan kekakuan itu.
Mereka pun memilih menjadi Muslim. Setelah masuk Islam, tugas dakwah itu
berlanjut dengan pengembangan ilmu dan ekonomi masyarakat. ''Tidak ada
air bersih, kita bikin. Tidak ada listrik, kita adakan. Uangnya dari
mana, umat Islam menyumbang. Tidak ada sekolah, kita cari bagaimana ada
sekolah di situ. Lalu melalui jalur pemerintah, kita minta bangun
pendidikan di situ.''
Bagaimana Anda berdakwah?
Pertama,
kita mulai dari sifat kebersihan. Kita perkenalkan kebersihan, mandi
yang sebenarnya. Setelah itu kita menutup aurat mereka, lalu kita
melakukan tindakan. Kami juga menggunakan pendekatan kemanusiaan,
sesudah itu kami bimbing. Pengalaman ketika saya di lokasi-lokasi
dakwah, saya pergi shalat, saya takbir, mereka bertanya, `'Kenapa angkat
tangan, kenapa sujud?'' Saya menjelaskan bahwa agama kami Islam. Kami
mengangkat tangan artinya menyerahkan seluruh jiwa dan raga kami kepada
Tuhan Allah, sehingga kami menyebut Allah Maha Besar. Kami ini tidak ada
artinya.
Anda melakukan dakwah sampai ke pelosok yang sarat dengan kepercayaan animisme. Bagaimana Anda melakukan dakwah di tempat itu?
Kita
datang pertama tidak memperkenalkan agama, tapi melihat keadaan,
kehidupan masyarakat, apa yang dihadapi. Sebab kita anak Islam selalu
terlambat datang di lokasi yang sudah didatangi oleh orang-orang bukan
Islam. Setelah datang, kita lihat kira-kira konsep apa yang kita
perkenalkan. Kita pakai konsep kemanusiaan, lalu diberikan pemikiran,
inilah Islam, lalu mereka tertarik dengan Islam.
Ada pertimbangan tertentu ketika memilih masuk ke satu daerah?
Sepanjang
kita punya kemampuan untuk sampai ke situ, kita dakwah. Kita pernah
sampai ke Enarotame dengan cara jalan kaki 12 hari. Daerah pantai pun
kita telusuri berhari-hari. Tapi, sekarang dengan mahalnya BBM, saya
bilang, ini ancaman buat dakwah.
Mengapa menjadi ancaman?
Kalau
kita bawa bantuan perlu pakai motor tempel. Kita sewa, diantar 7 hari
Rp 15-30 juta. Ya, kita harus sampaikan bantuan sampai ke lokasi-lokasi
itu. Sampai di lokasi kita tidur di sana, bersilaturahmi, bermain dengan
mereka, hingga mereka mengatakan inilah Islam. Sampai mereka bilang, oh
ternyata Islam ini bangun pagi shalat, bekerja. Dzuhur shalat. Dan itu
subhanallah, ketika kami bertahun-tahun di situ, mereka bilang, luar
biasa kalau begitu Islam. Alhamdulillah, sekarang tidak seperti masa
lalu. Sekarang keluarga lain datang berjalan melihat mereka beriman,
lalu memilih masuk Islam. Malah kami sekarang kewalahan.
Bagaimana dengan bantuan yang Anda peroleh?
Alhamdulillah,
bantuan tidak pernah putus setelah kita menyampaikan foto dan CD
kegiatan kita. Kami juga menggunakan dana umat Islam untuk membangun
masjid. Sampai saat ini, masjid yang sudah dibangun dari lembaga kita
mencapai 300-400 masjid. Ada juga orang yang datang bersama kita
membangun, kita hanya mengawasi. Tapi, di seluruh Irian sudah ada 900
lebih masjid.
Apa program yang Anda lakukan sekarang?
Kita
bikin penataran dai-dai (di Irian) dengan mendatangkan dai dari
Jakarta. Kita juga upayakan peningkatan ekonomi masyarakat, supaya
potensi yang ada di wilayah itu akan hidup, dia punya uang sendiri,
punya keimanan, punya tauhid.
Apakah semua wilayah Irian sudah dijelajahi?
Belum.
Kendalanya apa?
Kita
harus punya `peluru' yang banyak. `Peluru' ini kita biasa minta dari
umat Islam. Kita sekarang di daerah selatan, dari punggung burung ke
kepala burung (peta Irian). Di Utara juga sudah, daerah Timur sudah ada,
cuma masih kecil.
Apa kesulitan yang dialami selama ini?
Kesulitan kita hanya wilayah yang jauh. Transportasi kita tidak punya, fasilitas tidak ada. Kita apa adanya.
Bagaimana menghadapi orang Irian yang masih pakai koteka?
Kita
berusaha memperkenalkan berpakaian. Mereka sebenarnya, yang penting
kita melakukan pendekatan dengan sopan santun. Ikhlas adalah niat
awalnya terjun ke medan dakwah. ''Ikhlas itu sebuah kebenaran maka saya
ingin mencari ridho Allah.'' Perasaan ini muncul ketika dia berusaha
memperbaiki orang Irian. Untuk memelihara perasaan ikhlas itu, dia
selalu menghindar ketika ada media yang memintanya untuk diwawancara.
Namun, Fadlan luluh ketika banyak orang yang membujuknya untuk
mengungkap kegiatan dakwahnya. ''Sudahlah, antum harus bicara bahwa ini dakwah antum bersama teman-teman antum
yang lain,'' ujarnya menirukan bujukan itu. Bahkan, demi dakwah,
keluarganya harus rela tinggal berjauhan. ''Sudah ada komitmen dengan
keluarga, sepanjang mereka punya ekonomi kita siapkan dan kita berdakwah
ikhlas.''
Ada organisasi tertentu tempat Anda memperdalam Islam? Tidak. Semua organisasi saya datang dan saya bertanya. Kalau saya anggap itu mendekati Al-Quran dan sunnah
saya ambil, yang tidak saya tidak boleh jelekkan. Saya pernah aktif di
HMI, remaja masjid, Mahasiswa Pencinta Musalah. Sekarang di HTI, Hizbut
Tahrir Indonesia.
Kelihatannya Anda tidak pernah bercita-cita jadi dai karena memilih belajar ekonomi?
Tidak
pernah. Niatnya mau jadi pengusaha, bahkan pernah jadi pengusaha,
sampai hari ini masih berusaha. Saya menjadi konsultan di bidang
lingkungan hidup, sekaligus bersama teman-teman membangun SDM, lebih
khusus untuk orang-orang Irian.
Apa hiburan Anda?
Yang paling suka nonton tinju. Sebenarnya takut tinju juga, tapi melihat mereka ingin belajar bagaimana bisa menjatuhkan lawan.
Apa yang Anda impikan dengan aktivitas ini?
Yang
kita mau agar anak-anak Muslim Irian dan orang Irian umumnya dapat
menikmati perubahan sikap. Ketika dia berada di Irian, dia mampu
mengolah alamnya dan secara sadar bahwa ini alam harus diolah dengan
keterampilan sehingga hidupnya bermakna.
Sampai kapan mau melakukan ini?
Ya,
sepanjang hayat dikandung badan. Kami dakwah di Irian tidak punya duit.
Tapi, kami selalu minta dukungan ke umat Islam atau lembaga-lembaga
Islam. Kita bawa barang (kebutuhan masyarakat) dari Jakarta ke Irian
berton-ton.